Maaf, Saya Terlambat..

Beberapa hari yang lalu, saya meminjam sebuah motor seorang sahabat untuk  keperluan sesuatu yang mendesak. Saya dan beliau sudah menjadi sahabat sejak 3-4 tahun yang lalu, karena sama- sama terjun dalam sebuah organisasi skala kampus di Universitas terkenal di Sumatra Barat.

“ Ok. Nanti ana langsung saja ke rumah ya..” sahut beliau ketika ana bertanya dan meminjam motor beliau. Alhamdulillah. “ Jam berapa ana dikembalikan nanti?” sahutku. “Sekitar setelah sholat isya” sambil tersenyum. Helmet juga ana pinjam ya akh. Ok.. sahut beliau.

Hari itu menunjukkan pukul  5 sore. Aku berfikir ‘’Sekarang saja perginya.., supaya cepat dan tidak terlambat sewaktu memngembalikan motornya’’. Singkat cerita, akhirnya urusan yang mendesak itu selesai dengan baik, tetapi menyisakan suatu masalah baru. “Sepertinya Saya Terlambat...”. Detik itu juga  langsung ku ambil handphone jadulku kemudian kuketik sebuah pesan singkat. Hanya tiga huruf saja. “Maaf, ana terlambat”.

Dalam perjalan pulang, aku tidak bertemu dengan beliau, sahabat yang meminjamkan motornya kpdku. Ternyata beliau telah pergi dengan motor yang saya pinjam sore itu. Motor beliau diantar oleh sahabatku di palazzo karena kudapati diriku sedang memakai motor lain, sehingga tidak bisa bertemu dengan beliau dan langsung meminta maaf atas keterlambatan itu.

Sembari pulang, hati ini terus tidak tentram. Saya tidak berfikir bahwa dengan keterlambatan itu beliau akan marah dengan ala Ikhwan style-nya, karena beliau bukanlah tipe orang yang pemarah.  Penyesalan timbul saat itu juga, karena janji yang terucap, tidak terpenuhi dengan baik. Setelah di teliti, Beliaupun ternyata juga mempunyai sebuah kewajiban untuk sebuah cluster yang dihuni oleh beberapa mahasiswa sebuah universitas terkenal di  Padang.

Terakhir saya bertemu dengan beliau di suatu pagi ketika sedang asyik membersihkan pekarangan rumah yang telah banyak ditumbuhi oleh gulma dan sudah layak rasanya untuk di bersihkan segera. Beliau dengan motornya, melewati sebuah jalan semi aspal dan tanah di depan rumahku. Hanya bunyi klakson saja yang terdengar pagi itu. Saya melihat  beliau tidak tersenyum, tidak sedikitpun dan mungkin tidak akan tersenyum kala itu. Ya tentu saja,.. karena beliau memakai sebuah masker khusus pengendara motor untuk menghindari debu dan asap kendaran sewaktu perjalanan. Tapi dari sorot matanya, ku yakin tersimpan senyuman yang bermakna ” Wah.. Antum rajin ya pagi-pagi sudah cabut rumput ” atau “ayo semangat bekerja” atau hal hal yang semakna dengan itu semua. Mungkin seperti itulah editorialnya untuk menjelaskan makna dari sebuah senyuman.

Ternyata, semua kegudahan hati yang berujung pada sebuah penyesalan, hilang dan sirna dalam sekejap ibarat oase dalam adang gurun yang amat luas, ketika beliau mengirimkan sebuah pesan kepada ku. Isinya juga singkat. Cuma 4 huruf saja,  “ That’s ok. Never Mind ”.

Mungkin bagi kita, atau teman teman, janji yang kita ucapkan kepada saudara, teman dan orang lain, terasa biasa saja. Apalagi ditambahkan kata kata islami “insya Allah” sebagai kutipan dalam Al-Quran untuk meyakinkan agar orang lain ataupun sahabat kita, mau meminjamkan  apa yang ia miliki kpd kita tanpa terlebih dahulu memikirkan kesanggupan untuk mengembalikan sesuai dengan kesepakatan bersama. Salah satu yang disaksikan penulis adalah, Keterlambatan dalam Pertemuan Rutin kita setiap minggunya, padahal tentu telah kita sepakati untuk pd pertemuan sebelunya bahwa kita datang dan  pada waktu yang telah ditetapkan pada waktu pertemuan sebelumnya. Kemudian dengan seenaknya kita yang terlambat mengatakan “ Maaf saya terlambat karena bla.. bla.. bla.. “. Marilah kita berfikir bahwsanya kita mengutamakan janji janji yang kita sampaikan kepada orang lain baik dalam sebuah majelis atau antar personal. Kecuali ada hal-hal yang memang mendesak seperti meninggal dunia, kecelakaan, dan lain sebagainya. Bahkan untuk menepati sebuah janji kita, korbankan waktu kita untuk itu, korbankan jadwal waktu cuci banju kita, korbankan waktu istirahat anda untuk memenuhi janji yang teman sampaikan. Karna penulis yakin bahwa orang yang meminjamkan bendanya kepada kita, tentu mereka juga mengorbankan kepentingannya dan mengutamakan kepentingan saudaranya yang juga membutuhkan bantuanya. Ini yang kita namakan ITSAR (persaudaraan level tertinggi).

Penyesalan yang timbul ketika terlambat untuk mengembalikan barang atau benda kepunyaan orang lain, merupakan sikap langkah yang yang terpuji dan karena masih ada sikap saling menjaga  satu sama lain. Tentu akan lebih baik, bagi kita yang menyesal karena tidak akan mengulanginya lagi.

Penulis membaca dari sebuah artikel yang berbunyi “ Aku (Rasulullah SAW) niscaya tidak menunggu mu selama lima hari melainkan janji ”. Orang/sahabat yang berjanji dengan Rasulullah tersebut, lupa akan janjinya dan baru teringat setelah hari ke 5, sehingga Rasulullah SAW menunggunya selama 5 hari. Itulah pentingnya sebuah janji yang mesti di aplikasikan dan dicontohkan dari seorang Manusia Teragung yang pernah hidup di dunia ini selama 64 tahun.

Teman.., bagi kita yang meminjam sesuatu dari orang lain, dalam kata Meminjam itu mempunyai banyak kandungan nilai dan moral yang mesti kita perhatikan dangan seksama. Ada nilai KEPERCAYAAN bahwa teman teman akan merawat dengan baik dan menggunakan sebijak mungkin benda yang teman pinjam.  Ada nilai TANGGUNG JAWAB ketika barang itu kondisinya tidak sama (rusak, lecet, dll ) setelah pemakaian, teman-teman mesti menggantinya dan sebelum meminjam pastikan bahwa kita yang meminjam mampu mengembalikan barang yang kita pijam sesuai dengan kesepakatan bersama. Jika tidak sanggup, penulis merekomendasikan, jangan meminjamnya. Kemudian, ada nilai SOSIAL dan UKHUWAH bahwa kita tidak mempu hidup sendiri, dan membutuhkan keberadaan orang lain. Nah.., itulah Nilai dari kata Meminjam yang coba penulis sampaikan dlm artikel ini.

Meminjam juga tidak hanya sebatas benda-benda yang rutinitas di pakai sehari hari, tetapi juga benda-benda yang mempunyai nilai atau harga yang tinggi seperti emas, uang, berlian dan lain sebagainya. Tetap saja, bagi kita yang meminjam, mesti memperhatikan adab-adab dalam meminjam. Penulis juga menyampaikan dan mengajak kepada kita semua untuk memperhatikan hal-hal yang telah penulis jabarkan diatas yang tidak sekedar menyampaikan permasalahan tanpa diiringi dengan solusi-solusi singkat untuk mengatasi pilihan yang sulit sewaktu meminjam suatu barang kpd orang lain. Perhatikan..

Kosa Kata

Ana : Saya

Akh : Panggilan akrab

Palazzo : Warung Internet

Ikhwan style : Gaya marah ala ikhwan

Antum : Kamu

Ukhuwah : Persaudaraan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s