Menilai seseorang, jika blm Kenal

Waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang. Sejenak, setelah menunaikan shalat Zhuhur, ku rebahkan badan pda sofa di laborku, setelah manuntaskan beberapa agenda yang telah diatur semalam. Sembari, bersandar, ku buka map ku.., mensortir satu-satu dari urutan Tanda tangan dari sekretaris jurusan yang ada di fakultasku. Semuanya sudah ditandatangani, namun masih ada dua lagi yang tersisa. Acc dari sektretaris Jurusan Teknologi pertanian masih kosong. Kemudian kembali ku lihat list yang mesti di Acc oleh bebrapa pihak sebelum menghadap Sekretaris jurusan tersebut. Sudah semua tapi masih ada kotak yang kosong. Bagian Bengkel Pertanian masih belum ditandatangani.

Ku ingat beberapa hari sebelumnya, penanggung jawab dari bengkel teknologi pertanian, telah kunantikan kedatangannya. Tapi tetap saja tidak ketemu dengan beliau. Sempat 2-3 kali, tapi tidak kunjung ketemu juga dengan beliau. “ Wah susah juga ya ketemu dengan beliau?” Pikirku. “ Belum lagi dengan sekretaris fakultas TP, mungkin lebih lama lagi”. Ayo semangat..,. dari  Beberapa orang yang ku temui dari teman dan adek-adek di jurusan telah menjadi fakultas baru itu, ku menanyakan tentang kebiasaan beliau ketika kekampus. Adek adek tesebut menjawab, “ wah , baliau datangnya agak siangan bang”. “ sekitar jam berapa ya dan mobil apa yang biasa beliau kendarai?” ujarku. “ sekitar jam 1 lah bang, mobilnya jenis escudo”. “ Terima kasih ya ” sahutku. Ku urungkan kembali niatku untuk menemuinya hari itu, karena matahari sudah redup cahayanya. Coba lain waktu saja..

Kebetulan sekarang jam 1 lewat 10.., ku ambil kertas Acc dari map ku dan kembali kusarungkan kaus kakiku yang telah kering dari air wudhu. Hari ini pakai sepatu karena tidak sopan menemui seorang dosen dengan memakai sandal ala ikhwan-akhwat yang biasa dipakai dalam track apa saja. Tapi tidak kali ini. “Harus pakai sepatu..!! ” kutegaskan pada diriku. Kemudian ku temui beliau pada lantai 2 yang merupakan ruangan resmi beliau. Dalam perjalanan, aku belum tahu pasti apakah pernah bertemu dengan beliau sebelumnya. “ Seperti apa ya perawakannya?” pikirku. Setelah ku tanyakan, beliau biasa memakai kacamata, sedikit berjenggot, pakai celana jenis Levis dan akrab dengan mahasiswa. Sembari menuju ruangan, tak ada yang mirip dengan beliau. Kembali kulewati lorong yang sebelumya ku lewati, ternyata kulihat seorang dosen, berkacamata sedikit berjenggot, dan memakai celana jenis levis. Sama persis dengan apa ang adek-adek itu katakan. Ternyata beliau sedang berdiskusi dengan beberapa mahasiswa. “ Tunggu saja dulu, tak sopan menemui beliau yang sedang berdiskusi ”pikirku. Sambil menunggu, untuk meyakinkan diriku, kembali ku tanyakan kepada orang2 yang lewat di lantai 2 tersebut, apakah dosen tersebut yang selama ini kucari2 tak kunjung datang. Ternyata betul. 5 menit.., 10 menit.., 15 menit berdiri di sudut ruangan.

Sambil menunggu.., Terpikir kembali.., ternyata beliau dosen yang lumayan sering ku lihat dan berseberangan ketika berjalan di koridor fakultas. Sesering apapun aku bertemu dan berpaspasan dengan beliau, selalu sapaan hangat coba ku sampaikan yang diiringi dengan “Senyum 6 S”. tapi apa jawabnya? Hanya anggukan kepala saja dan tak ada suara jawabnya, ditambah dengan beliau melihatku dengan tatapan tajam ke arak kaki. Yahh.., seperti itulah setiap bertemu. “ Mungkin karena pakai sandal kali ya..?. Kurang sopan untuk di bawa kuliah”. Untung hari ini pakai sepatu, kurasa tak ada “masalah” dengan “kakiku”.

Akhirnya diskusi itu berakhir. Setelah mahasiswa itu bubar, langsung ku  hampiri beliau. Sembari beliau berdiri,, beliau menatapku yang sedang berjalalan ke arahnya. “Tak ada tatapan kearah kakiku?” tandasku. “ Mantap ..!”. “Ada perlu dengan saya? Ujar beliau. “ Ia pak, Acc untuk salah satu persyaratan wisuda”balasku. Ku sodorkan lebaran kertas tersebut dengan penaku.

Sebelum beliau menandatangani kertas yagn telah ku persiapkan sebelumnya, beliau melihat namaku dan bertanya, “Apa kepanjangan dari R ini?”, “Rossaffelt Pak” jawabku. sampailah akhirnya beliau bertanya tentang kedua orangku. Yah.. ku jawab sesingkat mungkin. “Nama Amerika ya..”beliau bertanya. “ia pak” sambil menganggukkan kepala. “ Bp lama ya. Jurusan kamu apa?”. “ HPT pak”. “Agak lama ya” kata beliau. “ Kamu punya kegiatan apa selain kuliah?”. “Ada Bisnis Kue di kampung pak”ujarku. “Sudah ada pekerjaan ya, trus buat apa kuliah?. Ku menjawab : Dengan masuk ke sebuah Universitas, kita disuruh untuk berfikir dan menganalisa sesuai dengan bidang masing masing secara teoritis dan terstruktur. Dengan berbisnis kita melihat kenyataan sehari hari dan itu membangun mental sosial. Tentulah baik dan bijak, jika menggunakannya dan menggabungkannya untuk kita, orang lain, dan tanggung jawab terhadap Tuhan. Tapi ada yang berbeda. Jawabanku itu tak bersuara dan tidak terdengar oleh beliau, Ku wakilkan dengan sebuah “ Senyuman 6 S”, senyuman yang biasa ku berikan setiap kali ketemu dan berpaspasan dengan beliau di koridor.

Kemudian beliau menandatanganinya setelah perntanyaan itu. “ Terima kasih ya pak atas waktunya”. Beliau menjawab “maaf kalau saya banyak bertanya ya?”. Ternyata beliau sangat ramah, suaranya lembut seperti orang tua yang bertanya kpd anak kecil. Walaupun banyak bertanya, tapi tak membuat bosan apalagi sakit hati. Tak baik dan teman teman akan tertipu dengan orang yang terkadang kita anggap dingin,cuek sebelum Bertemu dengan oragn tersebut, mengenal dan berinteraksi langsung. Pendapat kita akan bias ketika tak mengenal dulu dan jangan langsung men”judge” orang lain. Untuk yang kesekian kalinya saya tertipu dengan wajah yang pendiam dan ganas.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s