Facebook [Part 1] | Antara Ketaatan dan Permintaan

FacebookMemang tak semua media, sepenuhnya bermanfaat bagi user-user situs jejaringan. Sama halnya dengan facebook. Beberapa tahun yang lewat, ulama indonesia sepakat bahwa, media jejaringan seperti facebook dilarang dengan berbagai pertimbangan. Salah satu contohnya, adanya tindakan criminal yang berawal dari akun tersebut seperti kasus penipuan, orang hilang, dan lain sebagainya. Karena hal itulah ulama menghimbau (khususnya umat islam) agar tidak menggunakan situs tersebut dengan berbagai pertimbangan baik dan buruk baik bagi account user atau. Dalam posting kali ini saya tidak membahas kekurangan2 facebook.

Teman, teman sesama jurusan juga berkali kali menanyakan, “punya facebook ga?” Atau “Bang apa alamatnya facebooknya?” Semua pertanyaan itu ku jawab dengan simple saja. Tidak tuh. Kemudian rentetan pertanyaan pun dimulai. “Kenapa bang?” Jika yang bertanya si ikhwan yang dirasa kenal, maka di jawab dengan, “ulama kita berfatwa bahwa facebook hukumnya haram. Jadi ana tidak ada punya akun faceebook. Nah setelah menjawab yang satu ini muncul pertanyaan baru lagi dari si ikhwan. Tapi bagi yang bertanya dari amah atau teman2 jurusan, kujawab belum ada tuh. Atau hal yang senada dengan itu. dan rata2 mereka tidak bertanya yang macem macem setelah itu.
Kemudian ikhwan tersebut balik bertanya, “bukankan facebook itu juga bisa digunakan dengan untuk dakwah? Coba lihat ustadz/dzah itu, beliau itu user akun facebook lho!” Kujawab, “Ana hanya menghormati keputusan para pewaris nabi. Terserah apakah itu nantinya baik untuk umat atau tidak, tetapi lebih mengendepankan Ketaatan. Dan juga tidak mungkin para pewaris nabi tersebut mengeluarkan fatwa yang tidak2 apalagi yang bertentangan dengan akidah yang tidak bisa di tawar tawar.”

Facebook Untuk Keluarga.
Setelah beberapa tahun bertahan dengan keputusan tersebut, akhirnya datang permintaan dari orang tua yang meminta agar saya membuat akun di facebook. Setelah kusampaikan alasan kenapa saya tidak membuat akun tersebut -, umi menyampaikan, “facebook ini khusus untuk keluarga saja yang jauh di P***A sana sebagai sarana pemberi dan menerima informasi dan pengingat selain sms dan cellular phone dan juga dapat mengetahui aktivitas tanpa menanyakan terlebih dahulu.”

Ummi, untuk sekali ini saja ya.
Akhirnya setelah berfikir panjang, dengan sedikit berat hati ku buat akunku di facebook. Jika bukan Karena umi, mungkin hari ini masih bertahan dengan statemen ku. Jika yang meminta itu saudara perempuanku, tetap saja “tidak..!!“, apalagi teman-teman. setelah berfikir mendalam tentang kegunaannya dan juga berfikir hal ini juga bukan hal yang menyangkut akidah. Tapi tetap saja, berat hati untuk membuatnya karena bertentangan dengan hati nurani.

Advertisements

2 thoughts on “Facebook [Part 1] | Antara Ketaatan dan Permintaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s