Di Jayapura | Antara Jakarta dan Biak | Part. 2

… Dan pintu terbuka, terlihat Tante Ani (sapaan hangat-Johanna Rumbiak) yang sedang berkemas untuk boarding jam 9 malam ini. Hari menunjukkan jam 8 setelah singkat berbincang, kulihat, ada sedikit kemiripan dengan Papa Stev. Dengan kulit yang lebih putih. “ tante apa kabar? Senang bisa bertemu dengan tante” sahutku “. “Baik dan sehat ” sahut beliau. Eiffelt silahkan makan dulu sebelum kita berangkat.

Kemudian hari telah menunjukkan jam 08.30 malam. “Eiffelt kita siap-siap untuk berangkat” kata beliau. Kubawa koper dengan ukuran menegah dan tas kecil, keluar dari hotel dan langsung berangkat ke bandara dengan waktu 40 menit. Hal ini karena jarak hotel dan bandara lumayan dekat. Kemudian kita berangkat bersiaap-siap boarding jam 9-an.

Perjalanan ke Makasar:

Hhmm. Perjalan terjauhku sebelum mencapai Biak dan Jayapura. Yang teringat sewaktu perjalanan hanya kota Makasar. “Seperti apa ya bentuk bandaranya? Mewah atau sama dengan BIM (Bandara Internasional Minangkabau)”. Kemudian teringat lagi tentang perkataan dari “teman seangkatan” di Pascasarjana Unand yang menceritakan sedikit tentang kampung halamannya di Makasar.

Waktu tuk landing kian dekat. Ku mulai memperhatikan lewat jendela kecil disampingku. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanya kilatan lampu yang berwarna warni. Kotanya seperti terawat dangan baik, ya meskipun hanya malam hari, kita bisa membayangkan sedikit bagaiamana tata letak bangunan, jalan, taman dan lainnya dengan melihat keserasian letak lampu yang terlihat dari kejauhan.

Yup. Sampai di Kota Makasar. Curious…!! Ku sengaja turun dari pesawat untuk melihat segala macam “isi” dari Bandaranya walaupun sudah setengah capek. Ku sholat terlebih dahulu secara jamak Dan Tante Ani sembari mencari toko pakaian (karena tumpahan minuman sewaktu d pesawat) yg masih buka. Setelah selesai, ku pergi ke gate 5. Tidaka da aktivitas yang terasa spesial di waktu itu. sembari menunggu tante Ani datang, kuputar kepala dengan angle 360o untuk meihat segala macam isi bandara. Kesimpulannya adalah (i) Bandaranya luas (ii) Desain interior lumayan bagus, dengan konsep minimalis, tapi ada sisi yg bisa dimanfaatkan untk ruang hijau, kolam, dll. Setelah tante ani datang, kebetulan waktu transit telah habis. Ku langsung ke pesawat lagi. Jam sudah menunjukkan pukul…??/ pukul berapa ya..? sepertiya dini hari. Kemudian kita bertolak ke Biak.

Singkatnya, kita sudah sampai di Bandara Biak. Yup. Bandara Frank Kasiepo. Setelah sampai di ruang tunggu, ku bertanya dengan nada biasa. “Tante Ani, Frank Kasiepo itu siapa? Aktivis atau politikus atau lainnya?”

ternyata beliau adalah..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s