“Maaf, Saya Bukan Karyawan di sini..”

Ketika kita masuk dalam wilayah formal (pemerintahan dan non pemerintahan), tentu yang menjadi perhatian bagi kita adalah kerapian. Kerapian terkandung didalamnya kecocokan, kebersihan, paduan warna yang serasi yang membuat lebih elegan, feminim, dan lain sebagainya. Rapi dalam hal pakaian, rambut, serta perpaduan beberapa asesoris menjadi suatu keharusan. Jika kita masuk dalam kategori wawancara dalam hal melamar pekerjaan, kerapian juga menjadi faktor penilaian apakah seseorang akan diterima atau tidak.

Sebuah fakta mengungkap bahwa sebuah hotel bintang lima di Amerika Serikat, sangat jeli melihat seseorang calon pemakai jasa penginapan yang akan menginap di hotel tersebut. Mulai dari kendaraan yang digunkakan ketika masuk ke gate depan, pakaian yang digunakan serta bahasa-bahasa yang digunakan ketika berdialog dengan ‘waiter’ di resepsionis ketika proses memesan kamar. Jika anda mengenakan pakaian ala pebisnis, maka ketika anda akan memesan kamar, waiter akan mengatakan bahwa kamar dengan harga yang sedang atau paling murah telah dibooking, yang tersedia hanya kamar kamar dengan harga yang tinggi, tetapi sebenarnya kamar-kamar tersebut tidak semuanya di booking. Hal yang sama juga terjadi jika anda seorang Angota Dewan, seseorang dengan jabatan tinggi, Artis, dan lain sebagainya. Orang yang ‘menilai’ tersebut bukanlah waiter di resepsionis, tetapi seseorang yang bertugas ganda yang dekat dengan meja resepsionis yang selalu ‘motile’ (bergerak).

Ketika itu saya mengenakan pakaian rapi. Paduan warna coklat muda pada baju dan coklat pada bagian celana dengan menggunakan sendal. Asesoris hanya sebuah jam tangan yang disematkan di tangan kanan dengan rambut yang rapi. Bersih memang. Berbeda halnya dengan yang dikenakan oleh temanku sesama Master program Pascasarjana Universitas Andalas. Beliau hanya mengenakan jaket dengan celana semi lapangan dengan sendal gunung. Kita berencana membeli beberapa bahan kebutuhan di sebuah Mall di Padang. Ketika bebarapa bahan yang kita pilih didapatkan, seseorang datang menghampiriku sembari bertanya “ Mas, dibagian saya bisa menemukan mie **** ini ? ”. “ Saya tidak tahu. Saya bukan karyawan di Mall ini, tetapi sebagai pembeli ” sahutku. “ Ohhh.. maaf mas ” dia menimpali. Kemudian kubalas dengan sebuah senyuman. Diriku bertanya “ Did i look like a employer departement store here? ”. Padahal jika dilihat dengan lebih teliti, karyawan pria dan wanita pada Mall tersebut menggunakan baju yang serangam. Baju yang berwarna biru dengan celana hitam. Ditambah lagi dengan sebuah ID Card plus foto yang menempel pada bagian dada sebelah kiri. Hal sama juga didapati pada pakaian karyawan wanita.

Sangat berbeda apa diriku kenakan dengan karyawan tersebut. Antara biru dan coklat, jauh sekali perbedaannya dan perpindahan dari warna biru ke coklat, terdapat warna-warna lain yang bisa kita temukan.

Ternyata hal ini tidak berakhir sampai disini. Jauh kutelusuri bagian dari mall tersebut, seorang ibu-ibu yang ditemani anak perempuannya yang berumur antara 19-21an menyapaku dari kejauhan. sayup sayup kedengaran “ dek, dimana saya bisa temukan barang ini ?”. Maaf ibu, saya bukan karyawan disini ”. Diriku kembali tersenyum sembari memilih sebuah sapu tangan yang sesuai. Anak perempuannya lama menatap ku. Tatapan itu ku abaikan saja

A.G.A.I.N….

Kutarik nafas panjang dan kulihat lagi baju yang ku kenakan. Baju yang terlihat goresan setrika yang rapi pada bagian lengan yang digulung mendekati siku, celana manajer tanpa ada cacat. Rapi dan bersih memang.

Ternyata kerapian menjadi hal yang penting pada setiap moment. Anda bisa dikira seorang dosen, manajer, pegawai, dan orang akan memperlakukan anda sesuai dengan kondisi ketika anda rapi. Kerapian juga penilai awal bagi kita bertatap/bertemu dengan seseorang. Jika anda memasuki kantor pejabat, seperti walikota, bupati atau gubernur, jika anda tidak memakai sepatu saja, anda tidak diperbolehkan masuk meskipun mengenakan pakaian yg rapi.

So, bagi kita memasuki dunia formal dan semi formal, kerapian merupakan hal yang mutlak untuk dilaksanakan. Tak masalah jika pakaian yang kita kenakan itu sederhana, tetapi kerapianlah yang menjadi tolak ukur untuk menilai seseorang pertama kali. Bagaimana dengan asesoris? Tentu hal itu menjadi nilai plus dan penambah daya tarik membuat diri anda akan lebih dihargai lagi yang penting tidak terlalu berlebihan.

Bagaimana dengan teman semua..,? kerapian tentu menjadi bagian dari diri kita kan ?

 

Advertisements

7 thoughts on ““Maaf, Saya Bukan Karyawan di sini..”

    1. hmm, bkn karyawan akh. tp manajer hehe.

      2 kali ana dikira karyawan.. bsok klo k mall pakai baju kaus saja deh ..:)

  1. afwan da baru sempat blogwalking disini…
    punyo blog juo da abu,,, dahsyat byk pengunjungnyo mah!!!
    asli ngakak kalo inget cerita da abu di suatu plaza di andalas 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s